WEBMISTRESS DISCLAIMER TAGBOARD

Hello creatures! Welcome to my blog! Click the tabs above to explore my blog. Constructive criticisms are highly appreciated. Don't forget to leave a tag!
love my own LOVE stories

Photo of the Day
Links

fay's | mario's | wita's | ayue's
Credits
A Round of Applause to the following
Host: Blogger
Scripts : Dynamic Drive
have no ending, may be.
Written @ 6:30 PM
Hari ini lagi - lagi aku dipukul. Aku ngga ngerti kenapa aku harus selalu dipukul dan dikerasin sejak aku kecil.

Dulu, saat aku masih umur 3 ato 4 tahun, aku belajar menulis. Belajar pake buku latihan menulis yang umum dijual di Gramedia. Saat itu, pertama kali aku menulis dengan tangan. Aku ngga tau gimana cara menulis yang benar. Dan saat itu, aku dipukul. Saat itu, aku ngga tau kenapa aku dipukul. Yang aku tau, aku mungkin dipukul karena aku ngga bisa menulis.

Saat mulai masuk TK, aku masih rajin belajar menulis sepulang sekolah. Yang aku ingat, setiap kali aku belajar, maka setiap kali itulah aku dipukul. Tapi, entah kenapa pukulan itu terasa makin sakit. Mungkin, karena saat itu aku dipukul memakai sapu lidi atau sapu ijuk.
Saat itu,aku masih ngga tau kenapa aku dipukul. Mungkin, tulisanku jelek sehingga aku dipukul lagi.

Aku ingat, waktu aku kecil, aku harus makan - makanan yang sungguh sangat tidak enak rasanya. Coba bayangkan, telur dicampur dengan kacang merah, ditambah daging dan kulit ayam, jagung, dan brokoli, dimasak dengan kuah kaldu ayam. Semua dicampur aduk menjadi satu. Ya, mungkin itu makanan sehat, tapi apakah kamu mau makan - makanan seperti itu? Butuh waktu lebih dari satu jam buat aku menghabiskan seluruh makanan aku setiap hari. Dan setiap kali aku makan, setiap kali itulah aku dimarahi. Saat itu, aku ngga tau kenapa aku dimarahi. Mungkin, itu karena aku makan terlalu lama.

Sekarang, aku sudah besar. Umurku sudah 17 tahun, 18 tahun Juli nanti. Kini, tidak ada lagi pukulan yang bertubi - tubi yang selalu aku dapat. Tidak ada lagi memar dan bekas luka akibat semua pukulan itu di tubuhku. Tapi, sekarang, aku selalu dicerca, dimaki, dan dihina. Entah sudah berapa juta kali dia bilang aku ini monyet. Bahkan tak jarang, kata - kata yang keluar dari mulutnya jauh lebih menusuk hati.

Awalnya, aku merasa aku kuat. Tapi, kamu tahu? Sekuat - kuatnya aku, aku ngga berhati baja dan aku bukanlah tembok yang ngga bisa mendengar dan merasakan. Aku cuma bisa menangis. Tapi saat dia tahu aku menangis, bukan caci maki lagi yang aku dapatkan, tapi sungguh sebuah pukulan, atau beberapa pukulan mungkin, atau bahkan tamparan. Dan saat itu, aku harus berhenti menangis. Sungguh, tangisanku ngga boleh terdengar lagi.

Beberapa tahun, aku membiasakan diriku untuk menangis dalam diam. Membungkam mulutku dan hanya meneteskan air mata. Aku ngga boleh cerita ke siapapun. Aku merasa ngga punya teman yang mendukung aku. Bahkan papi ku, dia juga sekarang memarahiku atas kesalahan yang bukan kesalahanku.

Aku bukan orang yang tidak mau mengakui kesalahan aku sendiri. Kalau aku melakukan, aku pasti akan jujur mengatakan dan mengakui kesalahan ku. Tapi kalau itu bukan kesalahnku, sungguh aku tak mau mengakuinya. Meskipun aku harus berdebat dengan orang lain, bahkan dengan orang tuaku sendiri, aku siap! Tapi aku selalu jadi pihak yang salah. Harus selalu dicaci maki, dan yang terburuk, aku harus dipukul. Lagi dan lagi...

Hari ini, cuma karena ada user yang bilang client nomer 11 ngga bisa lancar buat main point blank, aku dipukul. Setau aku, komputer itu biasa - biasa aja, ga ada masalah. Tapi karena ada yang komplain, tanpa tahu sedikit pun tentang komputer, dunia internet dan game online, dia marah. Aku cuma bilang "bisa ngga sih ngga pake marah?" Dan kamu tau? Dia menghadiahi sebuah tamparan tepat di bibirku. Belum cukup, dia masih mencaci maki aku. Aku pun meriksa client nomer 11, dan kamu tau? Loading point blank di komputer itu jauh lebih cepet daripada loading point blank di client yang sekarang dipake sama orang yang complain tadi!

Dia selalu marah dan memukulku tiap kali aku ngga memperlakukan dia dengan baik di depan umum. Tapi kamu tau? Yang selalu mempermalukan aku di depan umum itu siapa? Yang selalu mengumbar semua kesalahan aku di depan saudara - saudara dan keluarga aku yang lain siapa? Aku merasa diperlakukan tidak adil, tapi aku bungkam. Aku ngga pernah protes secara frontal sama dia. Tapi semakin hari, rasanya ada perasaan yang ingin menjauh dari dia.

Ya, dulu aku memang masih anak kecil. Aku ngga tahu apa - apa. Aku ngga tahu kenapa aku dipukul, kenapa aku dimarahi. Aku yang selalu mencari tahu kenapa saudara - saudara sepupuku ngga pernah dipukul oleh orang tua mereka. Aku yang selalu iri melihat teman - temannya punya orang tua yang baik, yang selalu membawakan bekal makanan yang enak.

Meskipun dia selalu berdalih semua itu dia lakukan demi aku, aku tetep non sense. Karena yang aku tau, sejak kecil sampai sekarang, hanya pukulan, caci maki, dan paksaan untuk menjadi yang dia inginkan yang selalu aku dapatkan. Dan saudara - saudara sepupuku yang lain tidak pernah mendapatkan hal itu. Aku iri, aku benar - benar iri.

Aku ngga butuh keluarga yang kaya raya. Toh akhir - akhir ini aja, buat makan aja aku takut. Bahkan satu hari aku cuma makan satu kali, karena tidak ada makanan atau buat menghemat lauk yang ada. Hampir setiap malam, aku harus minum mylanta karena sebenernya maag aku sering kambuh beberapa hari terakhir ini. Tapi jangan khawatir, aku gapapa kok. Mungkin kalau aku makannya sedikit, aku jadi langsing, ya kan? (:

Sekarang, aku cuma bisa bermimpi. Bisa cari uang sendiri. Karena paling ngga, kalau aku bisa ngebiayai hidup aku sendiri, aku ngga akan dapat makian dan pukulan lagi. Aku juga mau punya keluarga aku sendiri. Keluarga yang ga akan pernah bikin aku hidup dalam kekerasan dan tekanan. Aku janji, suatu saat kelak, kalau aku jadi seorang ibu, aku ngga akan pernah menjadi ibu seperti ibuku. Karena aku tau rasanya hidup dalam kekerasan dan keterpaksaan.